Ulee Lheue | Banda Aceh, Rika Astuti sebagai Dosen Sumber Daya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan melakukan kegiatan kolaborasi bersama PEMKO Banda Aceh dan Panglima Laot Ulee Lheue dalam kegiatan “Festival Kenduri Laot dan Kenduri Anak Nelayan Aceh 2026” yang dilakukan pada tanggal 22 Juli 2026 sampai dengan 23 Juli 2026 dilokasi Dermaga Kantor Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi, Ulee Lheue Banda Aceh. Melalui Program yang didanai oleh Hibah Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI (Tahun Anggaran 2025), yang bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Pendayagunaan Ruang Publik. Kegiatan ini dikemas secara apik dengan mengusung tema besar “Kenduri Anak Nelayan: Forum Silaturahmi Anak Nelayan Aceh untuk Masa Depan Perikanan Aceh yang Berkeadilan dan Berkelanjutan”.

Festival diawali dengan zikir dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan acara seremoial. Penyampaian laporan kegiatan kenduri Laot dan Kenduri Anak Nelayan Aceh 2026 oleh Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi oleh Pak Syafaat yang mengatakan bahwa Kenduri Laot merupakan warisan leluhur yang telah dilaksanakan secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. “Kenduri Laot merupakan warisan nenek moyang yang terus kami jaga sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan melalui hasil laut. Tradisi ini menjadi bagian dari identitas masyarakat nelayan Aceh”.
Arahan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Bapak Drs. Tgk. Amir Hamzah M.Si menyampaikan bahwa Khanduri Laot adalah tradisi adat masyarakat pesisir di Aceh berupa kenduri atau pesta rakyat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut, doa keselamatan, dan mempererat kebersamaan. Adapun aturan adat ini berupa Adat Pantang Melaut, dimana Nelayan wajib libur turun ke laut selama tiga hari berturut-turut, Pemotongan Hewan (Sapi/kerbau): Lazimnya menyembelih kerbau (daerah Barat-selatan Aceh), tetapi untuk daerah Aceh Besar dan Banda Aceh mnyembelih sapi sebagai bagian dari sedekah adat dari leluhur. Doa dan Santunan: Diisi dengan zikir, doa bersama, dan santunan untuk anak yatim.


Penyampaian story dari anak nelayan penerima beasiswa dari YPMAN Aceh Dafa Aulia menyatakan bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah impian terbesar saya, Namun, kita semua tahu bahwa menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi memerlukan biaya dan perjuangan yang tidak sedikit. Banyak di antara anak nelayan yang memiliki semangat belajar tinggi, tetapi harus berhitung ulang dengan kondisi ekonomi keluarga ketika hendak melangkah ke dunia perkuliahan. Karena itulah, ketika saya menjadi salah satu penerima Beasiswa Kompetitif YPMAN pada tahun 2025, saya merasa sangat bersyukur. Bagi sebagian orang, beasiswa mungkin hanya dipandang sebagai bantuan finansial.
Festival Kanduri Laot Lhok Kuala Cangkoi 2026 dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banda Aceh, Iliza Sa’aduddin Jamal, serta dihadiri Wakil Wali Kota, unsur Forkopimda, Panglima Laot, tokoh adat, akademisi, organisasi nelayan, dan masyarakat pesisir. Selain prosesi adat, kegiatan juga diramaikan dengan pameran produk UMKM pesisir, pertunjukan seni budaya,lomba fotografi pesisir, hingga pelisiran di perairan Pantai Ulee Lheue, dan berbagai kegiatan yang bertujuan memperkuat pelestarian adat laut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Melalui kegiatan kolaborasi ini antara Pemko Banda Aceh dan Panglima Laot Ulee Lheu ia berharap terus mengembangkan potensi budaya, memperkuat adat dan tradisi lokal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan secara berkelanjutan. Acara festival ditutup dengan pembagian hadiah lomba foto pesisir dan laut terbaik 1, 2, dan 3 yang diserahkan oleh Juara 1 Bapak Iskandar Kadis dari Pemko Banda Aceh, Juara 2 diserahkan oleh Panglima Laot Ulee Lheue, dan juara 3 oleh Dosen SDA FPIK UTU. Apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam menampilkan karya karya terbaik tentang kehidupan pesisir Aceh. Melalui kegiatan seperti ini diharapkan semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap pelestarian laut, adat dan budaya laot, serta potensi wisata bahari Aceh.


Laporan: Rika Astuti | Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa

