Woyla | Aceh Barat, 21 November 2025 – Program Studi Akuakultur Universitas Teuku Umar (UTU) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sektor pertanian dan perikanan masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat berbasis riset dan sains terapan. Salah satu dosen Akuakultur, Mahendra, S.Pi., M.Si., memberikan edukasi dan penerapan teknologi kepada petani di Kecamatan Woyla terkait sistem minapadi serta inovasi alat pengusir hama burung berbasis otomatis.
Daerah Woyla dikenal memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pertanian dan budidaya ikan karena didukung oleh sumber air irigasi yang stabil serta mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan pembudidaya ikan. Namun, selama ini para petani masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama rendahnya produktivitas akibat belum tersedianya akses teknologi dan ilmu terbaru dalam pengelolaan usaha tani.
“Selama ini petani hanya fokus pada satu komoditas tanpa adanya upaya intensifikasi. Selain itu, hama burung yang menyerang tanaman padi menjadi salah satu hambatan besar yang berdampak pada penurunan produktivitas,” ujar Mahendra saat memberikan materi pelatihan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Mahendra memperkenalkan sistem minapadi, yaitu metode kombinasi penanaman padi dan pemeliharaan ikan dalam satu area persawahan secara bersamaan. Model ini terbukti meningkatkan efisiensi lahan sekaligus menghasilkan dua komoditas sekaligus, yakni ikan sebagai sumber protein hewani dan padi sebagai sumber pangan utama.
“Minapadi bukan hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi petani. Dengan sistem ini, produktivitas padi tetap tinggi dan hasil panen ikan dapat menjadi tambahan pendapatan yang signifikan,” jelasnya.
Selain sistem minapadi, Mahendra juga memperkenalkan dua teknologi sederhana namun inovatif untuk mendukung produktivitas, yaitu alat pemberi pakan ikan otomatis dan alat pengusir hama burung berbasis ekstrak herbal.
Teknologi pemberi pakan ikan otomatis dirancang menggunakan pompa air mini yang dimodifikasi dan dikendalikan digital timer, sehingga pakan ikan keluar pada waktu yang telah ditentukan, yaitu sebanyak tiga kali dalam sehari.
Sementara itu, alat pengusir hama burung dikembangkan dengan sistem semprot otomatis menggunakan campuran bahan herbal seperti jengkol, bawang putih, dan bintaro. Formula alami tersebut mampu menimbulkan aroma penolak bagi burung sehingga dapat meminimalisir kerusakan tanaman tanpa menggunakan bahan kimia.
Dengan adanya inovasi tersebut, petani tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu di sawah untuk memberi pakan ikan ataupun menghalau hama burung, sehingga aktivitas dapat dilakukan lebih efisien tanpa mengurangi hasil produksi.
Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari petani Woyla yang merasa terbantu dan optimis dapat meningkatkan hasil panen mereka melalui penerapan teknologi yang lebih modern dan efisien.
Laporan: Nabil Zurba | Editor : Iyan Almisbah | Foto: Mahendra

