Kampung Durian | Aceh Tamiang, 28 Februari 2026 — Janji Universitas Teuku Umar (UTU) untuk menghadirkan solusi ekonomi jangka panjang bagi warga terdampak banjir bandang di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, akhirnya terwujud. Memasuki akhir Februari 2026, Tim “Mahasiswa Berdampak” dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UTU resmi merampungkan tahapan krusial berupa pemasangan dan pengaturan (setting) program budidaya ikan air tawar berbasis sistem bioflok. Inovasi teknologi terapan ini merupakan buah pemikiran dan eksekusi langsung dari tim yang diketuai oleh Mahendra, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU), bersama pakar akademisi Citra Dina Febrina, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) dan Dr. Jekki Irawan, SP., MP. (Dosen Fakultas Pertanian UTU). Di lapangan, pengerjaan teknis ini dipimpin oleh Danil selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuakultur beserta jajaran mahasiswanya.
Transfer Teknologi dan Instalasi Kolam Bundar (28 Februari 2026) Pada Sabtu (28/2/2026), fokus tim mahasiswa sepenuhnya dicurahkan pada lokasi Mitra 2. Di titik ini, mahasiswa melaksanakan pemasangan instalasi utama berupa kolam bundar berbahan terpal yang menjadi wadah utama budidaya sistem bioflok. Pemilihan kolam bundar ini disesuaikan dengan kondisi pascabencana karena sifatnya yang praktis, hemat lahan, namun mampu menampung padat tebar ikan yang tinggi.


Tidak sekadar merakit kolam, mahasiswa yang memiliki latar belakang keilmuan akuakultur ini juga melakukan serangkaian pengaturan teknis yang presisi. Kegiatan mencakup pemasangan perlengkapan esensial kolam, pengecekan sistem aerasi (penyuplai oksigen), serta pengaturan debit dan sirkulasi aliran air agar kualitas lingkungan buatan tersebut benar-benar sesuai dengan standar kebutuhan budidaya ikan yang sehat.
Kolaborasi Pastikan Sistem Berjalan Optimal Proses instalasi ini tidak dilakukan oleh mahasiswa sendirian. Tim “Mahasiswa Berdampak” secara aktif melibatkan warga yang menjadi Mitra 2 dalam setiap tahapan perakitan. Mahasiswa bersama mitra melakukan pengecekan ulang (quality control) terhadap setiap komponen, mulai dari kekuatan rangka kolam hingga stabilitas gelembung aerasi.
“Keterlibatan mitra dalam proses instalasi ini sangat penting sebagai bentuk edukasi langsung. Kami memastikan mitra memahami fungsi setiap alat, sehingga sistem dapat berjalan dengan baik, stabil, dan siap digunakan secara mandiri setelah kami kembali ke kampus,” jelas Mahendra, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Program.
Hal senada juga disampaikan oleh Danil, Ketua HMJ Akuakultur. Ia menegaskan bahwa fasilitas ini adalah wujud nyata dari Tridarma Perguruan Tinggi. “Kami membawa ilmu dari ruang kuliah dan laboratorium FPIK UTU langsung ke halaman rumah warga. Melalui instalasi kolam bioflok ini, kami menaruh harapan besar agar program budidaya dapat terus berkembang, memberikan hasil panen yang maksimal, dan membawa dampak positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat sekitar,” pungkas Danil.
Dengan tuntasnya pemasangan sistem bioflok ini, program “Mahasiswa Berdampak” UTU telah meletakkan fondasi yang kuat bagi ketahanan pangan dan pemulihan mata pencaharian warga Kampung Durian pascabencana.
Laporan: Mahendra| Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa

