Bentengi Ekosistem Pascabencana, Tim “Mahasiswa Berdampak” UTU Gelar Monitoring dan Evaluasi Mangrove di Aceh Tamiang

02 Mar 2026 | Berita

Kampung Durian | Aceh Tamiang, 01 Maret 2026 — Komitmen Universitas Teuku Umar (UTU) dalam memulihkan wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang rupanya tidak hanya berfokus pada pemukiman warga dan kebangkitan ekonomi. Menyadari pentingnya sabuk hijau sebagai pelindung alami dari ancaman bencana di masa depan, Tim “Mahasiswa Berdampak” Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UTU turut menyasar program restorasi ekologi pesisir dan muara sungai.

Memasuki bulan Maret, tim yang dikomandoi oleh Mahendra, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) selaku Ketua Program, bersama tim pakar Citra Dina Febrina, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) dan Dr. Jekki Irawan, SP., MP. (Dosen Fakultas Pertanian UTU), merancang agenda khusus untuk penyelamatan lingkungan. Di lapangan, pergerakan ini dipimpin langsung oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuakultur, Danil, bersama rekan-rekan mahasiswanya.

Tim mahasiswa melaksanakan kegiatan turun lapang untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap area penanaman tanaman mangrove yang sebelumnya sempat terdampak oleh terjangan banjir bandang.

Dengan latar belakang keilmuan kelautan dan perikanan yang mumpuni, mahasiswa melakukan observasi detail. Kegiatan ini mencakup pengamatan langsung terhadap kondisi morfologi pertumbuhan tanaman, pengecekan tingkat persentase kelangsungan hidup (survival rate) bibit mangrove, serta pembersihan area sekitar agar tanaman terbebas dari tumpukan sampah atau gangguan lingkungan lainnya yang terbawa arus banjir.

Ketua Program, Mahendra, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa langkah evaluasi ini sangat krusial dalam kajian akademis sekaligus ekologis. “Mangrove adalah benteng utama ekosistem perairan. Terjangan banjir bandang tentu membawa sedimen dan material yang bisa mengancam kelangsungan hidup tanaman ini. Oleh karena itu, monitoring ini wajib dilakukan untuk memastikan sabuk hijau ini tetap tumbuh optimal,” jelasnya.

Pencatatan Data untuk Evaluasi Berkelanjutan Selain melakukan perawatan fisik di lokasi, tim mahasiswa juga melakukan pencatatan data (logbook) perkembangan tanaman secara sistematis. Data tingkat pertumbuhan dan adaptasi mangrove pascabencana ini akan menjadi bahan evaluasi penting, sekaligus rujukan bagi kegiatan konservasi lanjutan di masa mendatang.

“Kegiatan ini menjadi bentuk nyata komitmen kami sebagai mahasiswa FPIK UTU dalam mendukung pelestarian lingkungan. Kami tidak hanya ingin memulihkan apa yang hancur hari ini, tetapi juga memastikan ekosistem pesisir Aceh Tamiang tetap terjaga kuat untuk melindungi generasi berikutnya,” tegas Danil mewakili tim HMJ Akuakultur.

Melalui aksi pemantauan ekologi ini, program “Mahasiswa Berdampak” UTU sekali lagi menegaskan posisi institusi sebagai kampus yang unggul, responsif, dan peduli terhadap keseimbangan alam (agro-marine), selaras dengan nilai-nilai luhur Tridarma Perguruan Tinggi.

Laporan: Mahendra| Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa

Chandra