Kampung Durian | Aceh Tamiang — Fase pemulihan pascabencana banjir bandang di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, kini memasuki babak krusial: mitigasi krisis kesehatan lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, Tim “Mahasiswa Berdampak” dari Universitas Teuku Umar (UTU) merancang langkah preventif terpadu untuk memastikan masyarakat memiliki akses air bersih dan lingkungan yang bebas dari ancaman penyakit endemik.
Langkah strategis ini dieksekusi oleh mahasiswa di bawah payung Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuakultur yang dikomandoi oleh Danil. Seluruh program dikawal ketat oleh Ketua Program, Mahendra, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU), bersama tim dosen pendamping Citra Dina Febrina, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) dan Dr. Jekki Irawan, SP., MP. (Dosen Fakultas Pertanian UTU).


Memasuki Rabu (25/2/2026), tim mahasiswa memfokuskan tenaga pada pemulihan sistem pengelolaan air di desa terdampak. Ketersediaan air bersih yang terganggu akibat terjangan lumpur menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup dan program pemulihan warga.
Dengan sigap, mahasiswa turun ke lapangan melakukan pengecekan sumber-sumber air warga. Mereka membersihkan saluran air yang tersumbat material banjir dan menata ulang pengaturan aliran air. Upaya teknis ini dilakukan agar kualitas, kejernihan, dan ketersediaan air tetap terjaga dengan baik.
“Air adalah urat nadi kehidupan, terlebih di masa pemulihan seperti ini. Upaya revitalisasi tata kelola air ini menjadi bagian fundamental untuk memastikan lingkungan warga tetap sehat, sekaligus memastikan bahwa program pemulihan ekonomi seperti budidaya perikanan yang telah kami rintis dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” jelas Mahendra, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Program.


Sehari setelahnya, Kamis (26/2/2026), tim mengeksekusi program sanitasi lingkungan massal. Pascabanjir, genangan air yang tertinggal di berbagai sudut desa berpotensi besar menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk pembawa penyakit, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD).
Sebagai langkah preventif yang proaktif, tim mahasiswa melakukan penyemprotan anti-jentik nyamuk di area permukiman warga. Dengan penuh ketelitian dan tanggung jawab, mahasiswa menyisir titik-titik genangan air, selokan, dan area lembap yang berisiko tinggi.
Danil, selaku Ketua HMJ Akuakultur, mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga dibarengi dengan edukasi langsung kepada masyarakat. “Selain menyemprotkan cairan anti-jentik, kami mengajak warga untuk bersama-sama mengenali dan membersihkan sarang nyamuk di pekarangan masing-masing. Kegiatan ini tidak hanya membersihkan lingkungan secara fisik, tetapi juga bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan sanitasi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui intervensi di sektor air dan sanitasi ini, kehadiran UTU di Aceh Tamiang semakin membuktikan bahwa program “Mahasiswa Berdampak” dirancang secara komprehensif—tidak hanya memulihkan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga membentengi kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit pascabencana.
Laporan: Mahendra| Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa

