Merawat Tradisi di Tengah Masa Pemulihan, Tim “Mahasiswa Berdampak” UTU Berbaur Sukseskan Tradisi Meugang Kampung Durian

19 Feb 2026 | Berita

Kampung Durian | Aceh Tamiang — Universitas Teuku Umar (UTU) kembali membuktikan bahwa pengabdian masyarakat tidak hanya sebatas pembangunan fisik dan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga peleburan rasa dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir bandang, Tim “Mahasiswa Berdampak” UTU turut hadir membawa kehangatan dengan membantu pelaksanaan tradisi Meugang bersama warga Kampung Durian, Kecamatan Rantau.

Kegiatan pelestarian budaya yang sarat akan nilai kekeluargaan ini didampingi langsung oleh Ketua Program Mahendra, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU), bersama tim dosen Citra Dina Febrina, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) dan Dr. Jekki Irawan, SP., MP. (Dosen Fakultas Pertanian UTU). Di lapangan, sinergi ini digerakkan oleh mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuakultur yang dipimpin oleh Danil.

Pada Kamis (12/2/2026), rombongan mahasiswa turun langsung berbaur dengan tokoh masyarakat dan warga setempat untuk membantu prosesi penyembelihan hewan Meugang. Kehadiran mahasiswa ini disambut antusias oleh warga.

Mahasiswa tidak segan untuk kotor; mereka membagi tugas mulai dari persiapan alat, membantu proses penyembelihan, hingga melakukan pembersihan area secara komprehensif setelah kegiatan usai. Suasana kebersamaan dan tawa yang tercipta di sela-sela kegiatan seolah sejenak menghapus duka warga akibat bencana. Kegiatan ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan menjadi wujud partisipasi aktif institusi pendidikan dalam menjaga kelestarian budaya Aceh.

Jumat (13/2/2026), esensi dari tradisi Meugang—yakni berbagi kepada sesama—dieksekusi dengan apik. Mahasiswa UTU kembali terlibat penuh, kali ini fokus pada proses pendistribusian daging kepada masyarakat Kampung Durian.

Dengan manajemen yang tertib dan terorganisir, tim HMJ Akuakultur bahu-membahu bersama panitia desa memastikan pembagian berjalan sangat adil dan merata, terutama diprioritaskan bagi warga yang paling terdampak bencana dan berhak menerima.

Ketua Program, Mahendra, S.Pi., M.Si., mengapresiasi kepekaan sosial mahasiswanya. “Melalui tradisi Meugang ini, mahasiswa belajar bahwa Tridarma Perguruan Tinggi harus diimbangi dengan kecerdasan budaya. Kehadiran mereka di sini bukan sekadar tamu akademik, melainkan sebagai anak, saudara, dan bagian dari keluarga besar Kampung Durian. Ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap kearifan lokal,” ungkapnya.

Ketua HMJ Akuakultur, Danil, menambahkan bahwa agenda ini memberikan pelajaran batin yang luar biasa bagi para mahasiswa. “Melihat senyum warga saat menerima daging Meugang di tengah kondisi pascabencana ini sungguh menyentuh hati. Kegiatan ini tidak hanya mempererat ikatan sosial, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepedulian kami terhadap sesama,” tuturnya.

Partisipasi aktif dalam tradisi Meugang ini menjadi catatan emas dalam perjalanan program “Mahasiswa Berdampak” UTU. Ini menjadi bukti nyata bahwa pemulihan sebuah desa pascabencana akan jauh lebih cepat dan bermakna ketika dibarengi dengan pendekatan budaya dan pendekatan hati.

Laporan: Mahendra| Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa

Chandra