Kampung Durian | Aceh Tamiang — Bencana banjir bandang yang menghantam Kampung Durian, Kecamatan Rantau, tidak hanya mewariskan endapan lumpur, tetapi juga melumpuhkan sendi-sendi kehidupan warga. Menjawab panggilan kemanusiaan tersebut, Tim “Mahasiswa Berdampak” Universitas Teuku Umar (UTU) merumuskan strategi pemulihan yang komprehensif dengan menyasar tiga pilar utama desa: pusat pemerintahan, ruang sosial keluarga, hingga denyut spiritual masyarakat.
Sepanjang pertengahan Februari 2026, delegasi yang dimotori oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuakultur ini mengerahkan seluruh tenaga dan empati mereka di episentrum bencana. Gerakan ini dikawal langsung oleh Mahendra, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) selaku Ketua Program, bersama tim pakar pendamping Citra Dina Febrina, S.Pi., M.Si. (Dosen FPIK UTU) dan Dr. Jekki Irawan, SP., MP. (Dosen Fakultas Pertanian UTU). Di garis depan, Danil selaku Ketua HMJ Akuakultur memimpin rekan-rekannya meretas batas antara mahasiswa dan masyarakat.
Berikut adalah potret restorasi tiga pilar Kampung Durian yang diukir oleh mahasiswa UTU:
1. Menghidupkan Kembali Nadi Pemerintahan: Restorasi Kantor Datok Penghulu
Langkah awal pemulihan difokuskan pada Kantor Datok Penghulu, urat nadi pelayanan desa yang sempat mati suri. Bangunan ini dipenuhi puing dan material sisa banjir bandang. Tanpa ragu, mahasiswa berbaur dengan perangkat desa dalam sebuah gotong royong masif. Mereka tidak sekadar menyingkirkan lumpur pekat, tetapi juga menyelamatkan dan menata ulang perabotan serta dokumen yang tersisa.
“Meja dan kursi yang kembali tertata rapi di ruangan yang kini bersih bukan sekadar hasil dari sapuan sapu, melainkan simbol kebangkitan administrasi. Kami memastikan Kantor Datok Penghulu siap kembali melayani masyarakat,” ujar Mahendra, S.Pi., M.Si., mengapresiasi kerja keras timnya.
2. Merawat Ruang Sosial dan Keluarga: Pembersihan Rumah Mitra
Bagi mahasiswa UTU, pengabdian sejati adalah hadir di tengah ruang paling personal warga, yakni rumah mereka. Tim bergerak membersihkan rumah-rumah mitra yang nyaris seluruh sudutnya tertutup lumpur tebal.
Dengan kehati-hatian dan empati yang tinggi, mahasiswa membersihkan dinding, menyapu lantai, hingga menyelamatkan sisa-sisa perabotan rumah tangga. Suasana kebersamaan ini memecah duka warga. Mahasiswa membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pengamat lapangan yang datang untuk mencatat, melainkan problem solver yang ikut berkeringat dan menjadi bagian dari keluarga besar Kampung Durian.
3. Menyucikan Kembali Jantung Spiritual Warga: Revitalisasi Masjid Desa
Memahami bahwa masjid adalah jangkar spiritual dan pusat ketenangan warga di tengah krisis, tim mengalokasikan waktu khusus selama tiga hari untuk revitalisasi total area rumah ibadah. Pekerjaan dilakukan secara sistematis dan penuh rasa hormat:
Area Dalam: Ruang utama ibadah disucikan kembali dari debu dan noda agar jamaah dapat sujud dengan nyaman.
Fasilitas Sanitasi: Tempat wudhu, kamar mandi, hingga saluran air disikat tuntas dari sisa lumpur, memastikan standar higienitas kembali normal.
Area Luar: Halaman dan selokan dibersihkan dari sampah bawaan banjir, mengembalikan asrinya lingkungan masjid.
“Saat kami melihat warga kembali melangkah ke masjid yang bersih dengan wajah yang lebih tenang, seluruh rasa lelah kami terbayar lunas. Ini adalah momentum kembalinya kedamaian spiritual warga,” ungkap Danil mewakili rekan-rekan mahasiswa.
Melalui integrasi tenaga, pikiran, dan hati, program “Mahasiswa Berdampak” UTU telah membuktikan bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali fisik bangunan, melainkan merajut kembali harapan dan senyum masyarakat Aceh Tamiang.
Laporan: Mahendra| Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa
