Meureubo | Aceh Barat, 16 November 2024 – Menanggapi krisis sampah plastik yang mendesak, Himpunan Mahasiswa Sumber Daya Akuatik (Himasa) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar (UTU) sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Plastik Jadi Kekuatan: Ecobrick untuk Generasi Hijau Masa Depan” di SMA Negeri 1 Meureubo pada Sabtu, 15 November 2024. Program inovatif ini bertujuan mengubah paradigma sampah plastik, dari sekadar beban lingkungan menjadi sumber daya konstruktif, sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya ekonomi sirkular.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan tingginya kontribusi plastik sekali pakai terhadap pencemaran ekosistem, menuntut solusi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga edukatif. Dalam konteks ini, teknik Ecobrick – pembuatan bata padat dari botol plastik yang diisi limbah – menjadi fokus utama.
“Kami melihat Ecobrick sebagai solusi praktis dan revolusioner. Metode ini tidak hanya mengurangi volume sampah plastik hingga 80%, tetapi juga menghasilkan material bangunan yang kuat dan bernilai. Ini adalah perwujudan nyata dari tema kami, ‘Plastik Jadi Kekuatan’,” ujar perwakilan dari Himasa FPIK UTU.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan SMA N 1 Meureubo ini dihadiri oleh siswa, guru, dosen, dan mahasiswa Sumber Daya Akuatik. Workshop dirancang secara interaktif, meliputi sesi teori mendalam mengenai dampak sampah plastik dan praktik langsung pembuatan Ecobrick.
Sampah plastik telah menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di Indonesia, dengan produksi mencapai jutaan ton per tahun dan hanya sebagian kecil yang didaur ulang. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa plastik sekali pakai berkontribusi signifikan terhadap pencemaran sungai, laut, dan tanah, yang tidak hanya merusak ekosistem laut tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia melalui rantai makanan. Di tengah krisis ini, masyarakat sering kali merasa kewalahan dengan volume limbah yang terus meningkat, sehingga diperlukan solusi inovatif yang melibatkan edukasi dan aksi langsung untuk mengubah perilaku konsumsi.
Salah satu solusi kreatif yang telah terbukti efektif adalah ekobrik, yaitu teknik pembuatan bata atau bahan bangunan dari botol plastik yang dikemas padat dan dikumpulkan dalam jumlah besar. Metode ini tidak hanya mengurangi volume sampah plastik hingga 80% tetapi juga menghasilkan produk yang kuat dan tahan lama, seperti furnitur, dinding, atau bahkan struktur bangunan. Ekobrik telah diterapkan di berbagai komunitas global, termasuk di Indonesia, sebagai bagian dari gerakan ekonomi sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai. Dengan pendekatan ini, plastik yang biasanya dianggap sebagai musuh lingkungan dapat diubah menjadi “kekuatan” untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Mahasiswa, sebagai agen perubahan di perguruan tinggi, memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan menginspirasi generasi muda, termasuk siswa SMA, agar terlibat aktif dalam isu lingkungan. Siswa SMA, yang sedang dalam fase pembentukan identitas dan nilai-nilai, merupakan target ideal untuk program edukasi praktis seperti ekobrik, karena mereka memiliki energi dan kreativitas tinggi untuk menerapkan inovasi. Kolaborasi antara mahasiswa dan siswa SMA tidak hanya membangun keterampilan teknis tetapi juga menumbuhkan empati terhadap lingkungan, sekaligus menciptakan jejaring antar generasi yang dapat berlanjut dalam kegiatan berkelanjutan. Ini sejalan dengan program pengabdian masyarakat kampus yang bertujuan untuk memberikan dampak sosial positif.
Dalam mendukung pemanfaatan limbah plastik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, Himpunan Mahasiswa Sumber Daya Akuatik, FPIK UTU mengadakan kegiatan dengan tema “Plastik Jadi Kekuatan: Ekobrik untuk Generasi Hijau Masa Depan”, mengangkat sampah plastik bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk transformasi. Kata “kekuatan” menekankan potensi positif dari daur ulang, di mana plastik dapat menjadi bahan dasar untuk inovasi yang mendukung kehidupan berkelanjutan. “Generasi Hijau Masa Depan” menyoroti pentingnya melibatkan siswa SMA sebagai penerus yang akan mewarisi bumi yang lebih hijau, dengan ekobrik sebagai alat untuk mencapai visi tersebut. Tema ini mendorong perspektif optimis, di mana tantangan lingkungan diubah menjadi motivasi untuk aksi, sekaligus mendukung target global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) terkait konsumsi bertanggung jawab dan aksi iklim.
Laporan: Adela Intan Nasution | Editor: Iyan Almisbah | Foto: Istimewa
