DOSEN SDA MELAKSANAKAN PENGABDIAN MENCEGAH ABRASI PANTAI DI KAB. NAGAN RAYA
  • akuatik
  • 21. 10. 2019
  • 0
  • 14884

DOSEN SDA MELAKSANAKAN PENGABDIAN MENCEGAH ABRASI PANTAI DI KAB. NAGAN RAYA

 

Apa yang dimaksud dengan abrasi (abrasion)? Secara umum, pengertian abrasi adalah suatu proses alam berupa pengikisan tanah pada daerah pesisir pantai yang diakibatkan oleh ombak dan arus laut yang sifatnya merusak. Salah satu kerusakan garis pantai ini dapat dipicu karena terganggunya keseimbangan alam di daerah pantai tersebut. Akan tetapi meskipun pada umumnya abrasi diakibatkan oleh gejala alam, namun cukup banyak perilaku manusia yang juga ikut menjadi penyebab abrasi pantai.

Sederhananya abrasi adalah pengikisan di daerah pantai akibat gelombang dan arus laut yang sifatnya destruktif atau merusak. Karena adanya pengikisan tersebut sehingga menyebabkan berkurangnya daerah pantai di mana wilayah yang paling dekat dengan air laut menjadi sasaran pengikisan. Oleh karenanya apabila dibiarkan abrasi akan terus mengikis bagian pantai dan air laut bisa membanjiri daerah di sekitar pantai tersebut.

Menurut KBBI, arti abrasi adalah proses pengikisan batuan oleh angin, air, atau es yang mengandung bahan yang sifatnya merusak. Sedangkan Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, pengertian abrasi adalah proses pengikisan pesisir pantai yang diakibatkan oleh gelombang dan arus laut yang merusak, dimana pemicunya adalah keseimbangan alam yang terganggu di daerah tersebut. Faktor alam yang dapat menyebabkan terjadinya abrasi antara lain seperti pasang surut air laut, angin di atas lautan, gelombang laut serta arus laut yang sifatnya merusak.

Tentunya faktor alam yang menyebabkan abrasi ini tidak dapat dihindari karena laut memiliki siklusnya tersendiri. Karena pada suatu periode tertentu angin akan bertiup sangat kencang sehingga menghasilkan gelombang dan arus laut yang besar pula yang dapat menyebabkan pengikisan pantai. Ada beberapa perilaku manusia yang ikut menjadi penyebab terjadinya abrasi pantai. Salah satunya adanya ketidakseimbangan ekosistem laut dimana terjadi eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh manusia terhadap kekayaan sumber daya laut seperti ikan, terumbu karang dan biota lainnya. Sehingga apabila terjadi arus atau gelombang besar maka akan langsung mengarah ke pantai yang dapat menimbulkan abrasi.

Selain itu, pemanasan global juga menjadi salah satu pemicu abrasi pantai misalnya seperti aktivitas kendaraan bermotor atau dari pabrik-pabrik industri serta pembakaran hutan. Asap asap yang menghasilkan zat karbon dioksida tersebut akan menghalangi keluarnya panas matahari yang dipantulkan oleh bumi. Akibatnya panas tersebut akan terperangkap di lapisan atmosfer yang dapat menyebabkan suhu di bumi meningkat. Apabila ada kenaikan suhu di bumi, maka es di Kutub akan mencair dan permukaan air laut akan mengalami peningkatan yang dapat mempengaruhi wilayah pantai yang rendah.

Kegiatan penambangan pasir yang dilakukan oleh manusia secara besar-besaran juga menjadi faktor penyebab abrasi pantai. Hal itu berpengaruh secara langsung terhadap kecepatan dan arah air laut saat menghantam daerah pantai. Karena jika tidak membawa pasir maka kekuatan untuk menghantam pantai semakin besar. Dampak abrasi yang dapat terlihat secara langsung adalah terjadinya penyusutan area pantai. Hantaman ombak dan arus laut yang terus menerus mengakibatkan bebatuan dan tanah terpisah secara perlahan dari daratan.

Hutan bakau (mangrove) merupakan hutan yang tumbu di air payau dan dipengaruhi oleh air lau yang pasang-surut. Pada dasarnya hutan bakau ini untuk mencegah atau memecah ombak laut yang terlalu besar agar tidak mencapai ke daratan. Namun, ketika terjadi abrasi maka hutan bakau akan rusak dan ekosistem di sekitarnya juga rusak, serta tidak dapat berfungsi pada saat musim badai. Abrasi juga dapat mengakibatkan banyak jenis hewan dan tumbuhan kehilangan habitatnya, terutama ikan-ikan kecil. Hilangnya populasi ikan-ikan tertentu pada akhirnya akan merusak ekosistem laut.

Berdasarkan permasalahan diatas, salah satu dosen dari Prodi SDA FPIK UTU yaitu Sdri Yulie Rahayu Fitrianingsih tergerak melakukan kegiatan pengabdian secara insidentil yang Sosialisasi Dan Strategi Pesisir Pantai Tanggap Abrasi Di Gampong Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya yang dilaksanakan pada hari Minggu 6 Oktober 2019 di pesisir pantai Naga Permai. Ditemui secara langsung pasca acara pengabdian, Yulie Rahayu Fitrianingsih mengatakan “Rangkaian acara tesebut adalah sosialisasi dan edukasi kepada pengunjung dan pemilik usaha di sekitar pantai Naga Permai untuk meningkatkan rasa kesadaran dalam menjaga pantai dari abrasi, karena penyebab terjadinya abrasi juga berasal dari perilaku masyarakat sekitar pesisir itu sendiri. Serta perlunya dilakukan pencegahan dengan beberapa cara diantarannya dengan Menanam Pohon Bakau, Memelihara Terumbu Karang dan Melarang Penambangan Pasir”. (NBZ)

 

Komentar :

Lainnya :